Senin, 07 Juni 2010

penelitian tentang gempa bumi

JAKARTA- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengadakan Joint Coordinating Committee (JCC) antara Indonesia dan Jepang. JCC ini membahas upaya pengoptimalan berbagai disiplin ilmu dalam mereduksi bahaya akibat gempa bumi ataupun vulkanologi. Kerja sama riset antara Indonesia dan Jepang tersebut berjalan selama tiga tahun dari 2009 hingga 2012.

Deputi Ilmu Pengetahuan Ke-bumian LIPI, Hery Harjono, menegaskan, fokus utamanya adalan mencari solusi masalah penanggulangan bencana khususnya gempa tektonik, vulkanologi, dan tsunami. "Pemecahan persoalan itu berasal dari evaluasi proyek penelitian yang telah dijalankan. Hasil riset dari setiap bidang ilmu akan bermuara pada satu hal. yakni kebijakan pemerintah agar masyarakat sadar bahwa bencana merupakan bagian dari kehidupan," ungkapnya.

JCC melaporkan hasil riset dari enam bidang berbagai disiplin ilmu. Keenamnya meliputi bidang gempa bumi, gunung api. teknik geologi, sosial, pendidikan, serta kebijakan pemerintah. Sedangkan, para pembicaranya terdiri atas Teruyuki Kato (ERI, Tokyo University), Hasannudin Z Abidin (ITB), Masato Iguchi (DPRI, Kyoto University). Surono (PVM-8G), Fumihiko Imamura (Tohoku University), Mulyo Harris Pradono (BPPT), Masatomo Umitsu (Nagoya University), Deni Hidayati (LIPI), Yujiro Ogawa (Fuji Tokoha University), dan Irina Rafliana (LIPI).

Heri menambahkan, hasil riset tersebut juga untuk meningkatkan kapasitas penelitian gempa, tsunami, dan gunung api. Dengan begitu, penanggulangan bencana tidak sepotong-potong atau hanya sebatas penelitian, tapi berkesinambungan dan bersinergi dengan bidang ilmu lain untuk mengurangi risikonya.

Irina Rafliana, community pre-paredness (Compress) LIPI, menuturkan bahwa tingkat siaga bencana masyarakat saat ini tergolong masih rendah. Karena itu. dalam JCC ini dibuat metode untuk pendidikan di lingkungan sekolah dasar hingga lanjutan dan pendidikan bagi masyarakat umum. Pendidikan ini merupakan materi kesiapsiagaan terhadap bencana dan gempa, sesuai dengan karakter kerawanan gempa di Indonesia. "Sekolah kita masih sedikit yang menerapkan hal ini. Maka itu, ke depan, sinergi dengan Kementerian Pendidikan Nasional sangat dibutuhkan."

Peneliti Kependudukan LIPI, Deni Hidayati, menambahkan, kerentanan dan kesiapsiagaan bencana memiliki beberapa tolak ukur yang perlu dipahami masyarakat. Kerentanan terhadap bencana, jelasnya, dipengaruhi oleh faktor kepercayaan terhadap pimpinan formal ataupun informal, demografi, serta ekonomi.

"Kesiapsiagaan setiap daerah bergantung dari tingkat pengetahuan masyarakat, kebijakan dan peraturan, rencana tanggap darurat, sistem peringatan dini, serta kemampuan memobilisasi sumber daya yang ada." JICA adalah institusi dari Kementerian Luar Negeri Jepang, sedangkan JST (Japan Scientific and Technology) merupakan lembaga dari Kementerian Nasional Jepang. Salah satu program kedua institusi ini adalah masalah bencana. JCC ini merupakan kesepakatan kedua pihak untuk

bekerja sama dalam penelitian dan pengembangan kewaspadaan terhadap bencana dan gempa. Kedua negara ini memiliki kemiripan dalam kerawanan bencana dan gempa bumi. Pimpinan JCC dari Jepang, Kenji Shatake dari Tokyo University menegaskan, penelitian terhadap gempa perlu terus dilakukan dengan banyak kasus dan contoh. "Untuk mempelajari ini, kami perlu melihat banyak kasus dan contoh. Kita kerja samakan dengan Indonesia untuk melihat banyak kasus dan penelitian."

Alasan kedua, sambungnya, kedua negara memiliki aspek umum gempa bumi. Riset yang dilakukan ini merupakan masukan ke pemerintah dalam mengeluarkan berbagai kebijakan terkait dengan kehidupan mayiu-sia. "Untuk itu. perlu pendekatan multidisiplin. Tujuan kita adalah mengurangi korban, juga mendeteksi bagaimana perilaku manusia terhadap bencana alam. Kita juga sharing pengalaman dan kemampuan untuk mengurangi bahaya gempa bumi."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar